Gosip Top

Gosipin Apa Saja Yang Penting Siip

Breaking

Neno Warisman Curhat Gunakan Mikrofon Pesawat, Netizen Kritik Maskapai yang Izinkan

Neno Warisman Curhat Gunakan Mikrofon Pesawat, Netizen Kritik Maskapai yang Izinkan
Setelah Neno ditolak di Pekanbaru, Riau, dia dipulangkan dengan menggunakan pesawat komersial. Seperti video yang sudah beredar, sebelum naik ke pesawat, Neno Warisman memberikan keterangan terkait pemulangannya.
Tidak berhenti melalui video, Neno Warisman juga curhat di pesawat menggunakan cabin-handset (mikrofon) yang biasa digunakan awak kabin pesawat untuk pengumuman ke penumpang. Aneh.

Sejak kapan penumpang memiliki izin menggunakan mikrofon awak kabin untuk curhat? Saya juga tidak tahu. Belum juga diketahui apakah Neno sudah memiliki izin dari awak kabin atau pilot atau pihak terkait. Sebab sepengetahuan publik (saya), penumpang tidak berhak menggunakan alat-alat khusus awak kabin. Kalau ada keistimewaan tentu lagi-lagi akan mencoreng nama baik pengelolaan penerbangan komersial Indonesia.

Sehebat-hebatnya seorang Neno Warisman, sepenuh tanda tanyanya penumpang tentang apa yang terjadi – kalau ada yang mau tahu – tidak ada ceritanya penumpang curhat lewat cabin-handset. Pun belum pernah ada kasus seperti itu – tentu seingat saya.

Pesawat komersial tentu bukan pesawat pribadi yang dapat digunakan seenak udelnya. Pesawat komersial juga tidak mengenal gerakan politik. Pesawat komersial hanya akan mendapat keterangan dari pihak terkait, jika diperlukan, itu pun tidak sembarangan orang mengumumkan dari cabin-handset. Kalau Neno bisa curhat menggunakan cabin-handset, berarti ada sesuatu. Atau awak kebin dan pilot mengizinkan atau menyuruh, atau Neno Warisman mengambil kesempatan untuk memprovokasi seperti biasanya.

Akan sangat tidak masuk akal bila awak kabin atau pilot yang mengizinkan Neno, apalagi menganjurkan. Karena itu akan membuat kegaduhan di dalam pesawat. Jadi kemungkinan besar Nenolah yang memaksakan untuk menjelaskan.

Silakan lihat video di akun Twitter berikut:

Apa yang dicurhatkan Neno? Bagi saya itu tidak penting terkait hal ini. Dia sudah terlalu banyak curhat. Isinya tetap saja sama, merasa terzolimi oleh aparat. Padahal yang menghadang dia di bandara adalah rakyat, yang juga menyampaikan aspirasi sebagaimana dirinya klaim. Warga Pekan Baru menolak dia. Deklarasi gerakan makar 2019 ganti presiden tetap juga mengadakan deklarasi tanpa Neno. Masalah mereka adalah kehadiran provokator dari Jakarta ke Riau. Itu saja. Tetapi Siapa pun yang menolak, Neno akan tetap menyalahkan pemerintah.

Saya jadi teringat ketika mobil Ratna Sarumpaet diderek petugas Dishub DKI karena melanggar aturan parkir. Dia marah-marah dan mengancam akan menelepon gubernur. Dia langsung menghubungi Anies. Abrakadabra……. mobil kembali ke rumahnya diantarkan Dishub DKI. Enak bangat jadi orang kesayangan gubernur DKI.

Demikian juga dengan putri Fadli Zon ketika ke US. Minta difasilitasi KBRI di sana. Begitu juga dengan Rachel Maryam meminta difasilitasi KBRI ketika berlibur bersama keluarganya. Enak betul jadi pejabat negara. Istimewa sekali jadi anak pejabat. Nyaman sekali punya backing penguasa.

Begitu pula ketika mereka deklarasi, tidak bisa dilarang dengan dalih kebebasan berpendapat, sekalipun isinya hasutan membenci pemerintah, serta provokasi. Tetapi ketika mereka ditolak warga atas dasar hak untuk mendapatkan kepentingan publik, mereka teriak menyalahkan pemerintah.

Kepolisian sudah melakukan tugasnya untuk mengamankan. Mereka tuduh, pemerintah represif. Nanti kalau dilepaskan dan diamuk warga, mereka juga akan menyalahkan pemerintah tidak menjamin keamanan dirinya. Pokoknya, merekalah yang benar, yang tidak setuju dengan keinginan mereka adalah salah.

Akan jadi apa negara ini kalau mereka berkuasa? Saya tidak sanggup membayangkan. Pentolan-pentolan koalisi kardus akan dengan gampang menggunakan fasilitas publik demi kepentingan pribadi, merasa benar sekalipun sudah terbukti bersalah karena ada backing penguasa, dan akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, sekalipun itu merugikan kepentingan publik.

Kalau mereka berkuasa kita akan kembali ke era Orba. Ketika pejabat-pejabat negara adalah penguasa absolut, bebas melakukan apa saja yang mereka mau lakukan tanpa takut diproses hukum. Kalau pun diproses hukum, tinggal calling backing, habis perkara. Ketika orang-orang istimewa diperlakukan bagai dewa.

Tentu kita tidak ingin kembali ke era Orba. Ini bukan lagi hanya tentang Jokowi. Ini bukan lagi sekedar suka atau tidak suka. Ini tentang Indonesia yang sudah lebih baik dari era Orba. Membiarkan mereka berkuasa hanya akan mengembalikan Indonesia ini ke zaman serba suka-suka pejabat. Kalau Anda menginginkan itu, ya silakan.

. .
. .
. .
. .
. .